MARI BANGUN BANTEN

 MARI BANGUN BANTEN

DALAM SEKTOR KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA

Pariwisata adalah penggerak utama ekonomi dunia abad ke-21, bersama dengan industri telekomunikasi dan  teknologi informasi. Hal ini dikarenakan pertumbuhan ekonomi semakin membaik sehingga mendorong kenaikan kesejahteraan sosial masyarakat. Selain itu liburan telah menjadi bagian dari kebutuhan psikososial dan gaya hidup. Pariwisata merupakan industri strategis yang memiliki karakter unik. Wisatawan yang  datang ke tempat wisata untuk mengkonsumsi produk wisata, memberikan kesempatan dan kontribusi yang besar bagi pengembangan wilayah, membuka isolasi dan pengentasan kemiskinan. Pariwisata adalah kombinasi barang dan jasa. Perjalanan yang dibuat oleh wisatawan dapat berdampak tidak hanya bagi wisatawan sendiri, tetapi juga untuk tujuan dikunjungi. Provinsi Banten sebagai pintu gerbang Pulau Jawa dan Sumatera, dan berdekatan dengan wilayah Jakarta sebagai ibu kota, memiliki beragam atraksi wisata. Dengan beragam potensi yang dimiliki, mampu membuat Provinsi Banten sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia. Untuk itu Provinsi Banten harus melakukan perbaikan infrastruktur, pengembangan sumber daya manusia dan meningkatkan promosi pariwisata.Keterbatasan penelitian ini adalah kekinian data statistik. Penelitian lebih lanjut memerlukan cakupan yang lebih luas, dengan menambah kriteria penetapan destinasi pariwisata unggulan dan melibatkan pelaku pariwisata. Sektor pariwisata mampu menggerakkan ekonomi rakyat, karena dianggap sebagai sektor yang paling siap dari segi fasilitas, sarana dan prasarana dibandingkan dengan sektor usaha lainnya. Dibidang pembangunan pariwisata, potensi dan peranannya sabagai salah satu sektor penghasil devisa utama dan mampu menyerap tenaga kerja. Di samping itu, nilai-nilai kebudayaan yang ada akan menjadi lebih lestari karena keterpaduan dengan pengembangan sektor kepariwisataan. Pariwisata menjadi faktor penting dalam pengembangan ekonomi, karena kegiatannya mendorong perkembangan beberapa sektor ekonomi sosial.

Salah satu provinsi di Indonesia yang terus mengembangkan pariwisata adalah  Provinsi Banten. Provinsi yang terbentuk pada tahun 2000 ini memiliki banyak potensi  wisata yang dapat meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung. Namun hingga kini,  masih terdapat kendala yang dihadapi untuk mengembangkan Provinsi Banten sebagai  daerah tujuan wisata unggulan di Indonesia. Sehingga tulisan ini bertujuan untuk (1)  mengindentifikasi potensi Provinsi Banten berdasarkan kriteria penetapan destinasi wisata  unggulan, (2) mengindentifikasi masalah yang dihadapi untuk mengembangkan Provinsi  Banten sebagai destinasi wisata unggulan dan (3) memberikan masukan untuk  pengembangan pariwisata di Provinsi Banten.  Provinsi Banten sebagai salah satu provinsi di Negara Kesatuan Republik  Indonesia ditetapkan berdasarkan UU No. 23 tahun 2000 Tentang Pembentukan Provinsi  Banten. Secara geografis wilayah Provinsi Banten sebelah utara berbatasan dengan Laut  Jawa, sebelah barat berbatasan dengan Selat Sunda, sebelah timur berbatasan dengan Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat serta di sebelah selatan berbatasan dengan Samudera  Hindia. Luas wilayah Banten 9.662,92 km2 dengan populasi penduduk mencapai 10.632.166 jiwa berdasarkan sensus penduduk tahun 2010. Mayoritas penduduk beragama Islam dengan mata pencaharian dari sektor pertanian, perdagangan, industri dan jasa. Unit pemerintahan Provinsi Banten dibagi atas empat kabupaten dan empat kota yaitu Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Cilegon, Kota Serang dan Kota Tangerang Selatan. Ibukota provinsi ini adalah Serang, walaupun kegiatan perekonomian lebih terasa denyutnya di Kota Tangerang dan Tangerang Selatan, di mana perkembangan infrastruktur dan perumahan sangat pesat di dua wilayah ini.

Wilayah Dan Kawasan Pengembangan Wisata

Menurut Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Banten Tahun 2007–2012 hingga saat ini telah diidentifikasi keberadaan 241 obyek wisata yang terdiri  dari obyek wisata kategori alam (60 obyek) dan obyek wisata kategori buatan (181 obyek). Provinsi Banten terdapat tiga wilayah pengembangan pariwisata (WPP). Wilayah Pengembangan Pariwisata (WPP) Provinsi Banten adalah sebagai berikut:

  1. WPP A terdiri dari Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan.
  2. WPP B terdiri dari Kabupaten Serang, Kota Cilegon, Kota Serang.
  3. WPP C terdiri dari Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak.

Secara kewilayahan, pola pengembangan pariwisata Provinsi Banten terdiri dari Kawasan  Wisata Pantai Barat, Kawasan Wisata Ziarah, Kawasan Wisata Pantai Selatan dan Kawasan Wisata Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Dalam Rencana Induk Pengembangan  Pariwisata  Provinsi  Banten  (Diparsenibud  2004)  telah  ditetapkan  18 kawasan  pengembangan  pariwisata  yang  tersebar  di  seluruh  kabupaten/kota berdasarkan hasil pengelompokan (clustering) obyek-obyek wisata yang ada. Kawasan pengembangan pariwisata tersebut adalah:

  1. Kawasan wisata Kota Tangerang;
  2. Kawasan wisata Kota Pandeglang;
  3. Kawasan wisata Serang Utara;
  4. Kawasan wisata Ciomas;
  5. Kawasan wisata Banten Kepulauan;
  6. Kawasan wisata Tigaraksa;
  7. Kawasan wisata Tangerang Selatan;
  8. Kawasan wisata Kota Serang;
  9. Kawasan wisata Rangkasbitung;
  10. Kawasan wisata Tangerang Utara;
  11. Kawasan wisata Pantai Barat Serang-Cilegon;
  12. Kawasan wisata Ujung Kulon;
  13. Kawasan wisata Pantai Sumur;
  14. Kawasan wisata Pantai Barat Pandeglang;
  15. Kawasan wisata Lebak Tengah;
  16. Kawasan wisata Pantai Selatan Lebak;
  17. Kawasan wisata Leuwidamar;
  18. Kawasan wisata Sawarna.

Pariwisata merupakan sebuah industri strategis  yang memiliki karakter  yang unik. Perjalanan wisata  yang dilakukan oleh wisatawan memberikan dampak bukan hanya bagi wisatawan  itu  sendiri  tetapi  juga  bagi  destinasi  yang  dikunjungi.  Dampak  yang  paling nampak adalah dampak terhadap sektor ekonomi. Pariwisata telah mampu menggerakkan roda perekonomian suatu negara atau wilayah yang menjadi Daerah Tujuan Wisata. Provinsi  Banten  sebagai  pintu  gerbang  Pulau  Jawa  dan  Sumatera  serta  berbatasan langsung  dengan  wilayah  DKI  Jakarta  sebagai   Ibu  Kota  Negara,  memiliki  banyak keragaman  atraksi  wisata.  Dengan  potensi  wisata  yang  dimiliki,  mampu  menjadikan Provinsi  Banten  sebagai  salah  satu  destinasi  unggulan  di  Indonesia.  Untuk  menjadi destinasi unggulan, Provinsi Banten harus banyak berbenah dan yang agenda utama adalah pembenahan    infrastruktur.    Dengan    kesiapan    infrastruktur,    wisatawan    yang    akan mengunjungi  Provinsi  Banten  akan  mendapatkan  kemudahan  untuk  mencapai  lokasi atraksi wisata.

Selain  infrastruktur,  pengembangan  sumber  daya  manusia  pariwisata  juga  perlu diperhatikan.  Pengembangan  sumber  daya  manusia  pariwisata  ke  depan  harus  diperkuat aspek soft  skill di  samping  kemampuan hard  skill Investasi  di  bidang  promosi  juga menjadi   sangat   penting.   Promosi   atraksi   wisata   yang   dirancang   dengan   baik   akan memberikan  tambahan  Penerimaan  Asli  Daerah,  dan  mendorong  proses  perkembangan ekonomi lokal di sekitar daerah tujuan wisata. Negara-negara yang menjadi target promosi perlu diidentifikasi secara cermat. Beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Australia dan  Jepang  merupakan  negara  pengirim  wisatawan  mancanegara  terbesar  ke  Indonesia. Kegiatan   promosi   dapat   dilakukan   dengan   melihat   karakteristik   dari   wisatawan berdasarkan  asal  negaranya.   Contohnya  adalah  wisatawan  Singapura,  Malaysia  dan Australia yang menyukai destinasi yang banyak pilihan atraksi wisata alam. Promosi dapat dilakukan  dengan  menawarkan  beragam  atraksi  wisata  alam  unggulan  yang  banyak terdapat di Provinsi Banten, sedangkan mengacu pada nilai historis, dapat dilakukan upaya promosi  pariwisata  Banten  di  negara-negara  Arab,  Cina,  India,  Portugis,  Spanyol  dan Inggris, karena beberapa abad yang lalu Banten pernah memiliki hubungan spesial dengan negara- negara tersebut.

Pada umumnya Pemerintah Provinsi menginginkan daerahnya ma-sing-masing menjadi Daerah Tujuan Wisata (Tourist Destination Area). Pada kenyataannya tidak semua provinsi berada dalam keadaan siap untuk men-jadi Daerah Tujuan Wisata, mengingat belum terpenuhinya beberapa per-syaratan / kriteria sebagai Daerah Tujuan Wisata, terutama jika diharapkan sebagai Daerah Tujuan Wisata Internasional. Perlu agaknya kita akui bahwasanya diantara 33 provinsi yang kita miliki hanya beberapa Daerah Tujuan Wiasata yang siap dipasarkan dalam sekala besar, diantaranya yaitu Bali, Jakarta dan Batam, yang mampu me-nampung wisatawan lebih dari 3.000.000 Touris-nights setahun. Benar kira-nya, bahwa provinsi lain pun dalam kondisi siap di pasarkan, salahsatunya adalah Provinsi Banten yang memiliki beberapa daerah yang memiliki poten-si wisata alam dan budaya yang cukup menjanjikan.Provinsi banten telah menjadi sebagai salah satu provinsi di Negara Kesatuan Repubiki Indonesia yang ditetapkan berdasarkan UU No 23 Tahun  2000. Secara Geografis wilayah Provinsi Banten berbatasan:

  1. Sebelah utara berbatasan dengan dengan laut Jawa.
  2. Sebelah barat berbatasan dengan selat sunda.
  3. Sebelah timur berbatasan dengan Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat
  4. Dan sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Hindia.

Banten mempunyai luas wilayah sekitar 8.800,83 km2 dengan populasi penduduk mencapai 10.644.030 jiwa berdasarkan sensus penduduk ta-hun 2010. Mayoritas penduduk beragama Islam dengan mata pencarian dari sektor pertanian, perdagangan, perindustrian dan dan jasa. Unit pemerintah dibagi atas 4 kota : Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Cilegon, Kota Serang dan Kota Tangerang Selatan. Masing-masing daerah memiliki karakteristik sumber daya pariwisata budaya, alam, buatan dan kehidupan masyarakat  tradisional ( living culture ) yang berkembang sebagai destinasi wisata ber-sekala nasional bahkan internasional seperti Pesona Pantai Anyer, Carita & Tanjung Lesung, wisata bahari Pulau Umang, Taman Nasional Ujung Kulon, wisata Religi Banten Lama dan keunikan Masyarakat Tradisional Baduy. Provinsi Banten memiliki Pengembangan Pariwisata yang diidentifi-kasikan atas 204 Objek Daerah Tujuan Wisata (ODTW) menurut RIPPDA pariwisata tahun 2006 yang tersebar di seluruh wilayah Provinsi Banten.Terdiri dari 84 Objek Wisata Alam, 34 Objek Wisata Sejarah dan Budaya, 24 Objek wisata Buatan, 9 Objek Wisata Living Culture dan 84 Objek Wisata Atraksi Kesenian, Sebanyak 71 ODTW (34,8%) merupakan kawasan wisata  yang telah berkembang baik dalam sekala nasional maupun internasional. Sementara itu sekitar 100 ODTW (49,0%) merupakan Objek Wisata yang potensial untuk dikembangkan. Pola pengembangan pariwisata Provinsi Banten meliputi 18 kawasan.

Pengembangan Banten dalam sektor Kebudayaan

Sebagian besar anggota masyarakat memeluk agama Islam dengan semangat religius yang tinggi, tetapi pemeluk agama lain dapat hidup berdampingan dengan damai. Potensi, dan kekhasan budaya masyarakat Banten, antara lain seni bela diri Pencak silat, Debus, Rudad, Umbruk, Tari Saman, Tari Topeng, Tari Cokek, Dog-dog, Palingtung, dan Lojor. Di samping itu juga terdapat peninggalan warisan leluhur antara lain Masjid Agung Banten Lama, Makam Keramat Panjang, dan masih banyak peninggalan lainnya. Di Provinsi Banten terdapat Suku Baduy. Suku Baduy Dalam merupakan suku asli Sunda Banten yang masih menjaga tradisi antimodernisasi, baik cara berpakaian maupun pola hidup lainnya. Suku Baduy-Rawayan tinggal di kawasan Cagar Budaya Pegunungan Kendeng seluas 5.101,85 hektare di daerah Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Perkampungan masyarakat Baduy umumnya terletak di daerah aliran Sungai Ciujung di Pegunungan Kendeng. Daerah ini dikenal sebagai wilayah tanah titipan dari nenek moyang, yang harus dipelihara, dan dijaga baik-baik, tidak boleh dirusak. Budaya Banten merupakan bagian dari dinamika budaya nasional yang berkembang seiring dengan perjalanan ruang dan waktu. Provinsi Banten menemukan bentuknya yang sekarang melalui perkembangan sejarah yang panjang. Berbagai pengaruh telah ikut mewarnai kehidupan sosial, politik dan budaya masyarakat Banten.  Peran Banten dalam percaturan politik Internasional dikukuhkan saat Sultan Banten mengirim duta besarnya ke Inggris pada tahun 1681, dan sebaliknya Eropa juga mengakui keberadaan Banten ketika Raja Christian V dari Denmark mengirim utusannya ke Banten tahun 1682. Keindahan Ibu Kota Banten Lama, Surosowan dengan penghuninya yang multietnis digambarkan oleh Belanda bak Kota Amsterdam. Kejayaan Banten Lama masih dapat dilihat dari sisa-sisa bangunan Istana Surosowan, Kaibon, Benteng Speelwijk dan kepurbakalaan lainnya. Benda cagar budaya dan situs yang telah diinventarisasi oleh Disbudpar Provinsi Banten sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 mencatat sebanyak 151 kepurbakalaan di Provinsi Banten. Jumlah kepurbakalaan sebanyak itu bukan jumlah yang sedikit untuk ukuran sebuah provinsi, hingga perlu segera ditangani secara serius dan sungguh-sungguh oleh instansi terkait dan dukungan sumber daya manusia yang berkualitas. Keunikan lain yang dimiliki Banten adalah keberadaan suku Baduy, dimana sebuah komunitas bisa mempertahankan nilai adat dan budayanya terjaga utuh dari pengaruh modernisasi yang mulai masuk. Tradisi Sunda Wiwitan masih dipraktekan. Pantangan yang diajarkan terus menerus secara turun temurun menjadikan mereka hidup dalam keharmonisan dengan sesama manusia dan alam. Selain Suku Baduy, ada lagi komunitas masyarakat adat Desa Cisungsang yang terletak di kaki Gunung Halimun, yang dikelilingi oleh 4 (Empat) desa adat lainnya yaitu Desa Cicarucub, Bayah, Citorek, dan Cipta Gelar. Masyarakat Adat Cisungsang dipimpin oleh seorang Kepala Adat, yang penunjukannya melalui proses wangsit dari karuhun. Mereka telah lama mengembangkan cara untuk mempertahankan hidup dengan menciptakan sistem nilai, pola hidup, sistem kelembagaan dan hukum yang selaras dengan kondisi masyarakat setempat. Pengalaman berinteraksi secara ketat dengan alam telah memberikan pengetahuan mendalam bagi kelompok-kelompok masyarakat adat dalam pengelolaan sumberdaya lokalnya. Mereka telah memiliki pengetahuan lokal (Local Knowledge) untuk mengelola tanah, tumbuhan dan binatang baik di hutan, laut untuk memenuhi segala kebutuhan hidup mereka sendiri seperti makanan, obat-obatan, pakaian dan perumahan. Harus diakui bahwa masyarakat adat yang hidup puluhan ribu tahun di daerah ini merupakan “ilmuwan-ilmuwan yang paling tahu” tentang alam lingkungan mereka.

Dalam bidang kesenian, yang merupakan salah satu dari tujuh unsur kebudayaan universal, seni tradisional Banten Banten yang memiliki genealogis (keeratan hubungan) dengan tradisi Islam Kesultanan, serta kaya dengan adat keislaman lokal disinyalir hampir mengalami kepunahan akibat daya tahan seni tradisional yang kurang kuat dalam menghadapi penetrasi budaya asing. Berdasarkan data yang ada di Provinsi Banten, ada 45 jenis Kesenian Tradisional Banten yang tersebar di 4 Kabupaten dan 3 Kota yaitu : Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Serang dan Kota Cilegon. Diantaranya : Angklung Buhun, Beluk, Bendrong Lesung, Barongsai, Calung, Cigeulisan, Calung Renteng, Cokek, Debus, Dog-dog Lojor, Degung, Dodod, Gacle, Gambang Kromong, Genjring, Reog, Rengkong, Saman, Terebang Gede, Topeng Sempilan/Wewe, Sepak Bola Api, Tanjudor, Terebang Dekem, Ubrug, Wayang Golek, Wayang Kulit, Wayang Garing, Wayang Cepak, Yalil, Wawacan Syekh, Gemyung, Gedebus, Jaipongan, Jipeng, Kendang Penca, Kuda Kepang, Keroncong, Kecapi Suling, Lenong, Mawalan, Marhaban, Patingtung, Qasidah, Rudat, Rampak Bedug. Dari berbagai jenis Kesenian Tradisional Banten tersebut di atas, dapat dianalisis bahwa Kesenian Tradisional Banten dapat dikategorikan menjadi 4 kategori :

  1. Seni Tradisional yang sangat kental diwarnai hidup dan berkembangnya agama Islam, seperti : Rampak Bedug, Terebang Gede, Qasidah, Saman,Yalil;
  2. Seni Tradisional yang merupakan perkawinan dari jiwa patriotic masyarakat Banten dengan budaya Islam, seperti : Debus, Patingtung dan Rudat;
  3. Seni Tradisional yang merupakan budaya Banten tua, yang menurut sejarah lahir bersama Islam atau sebelum datangnya agama Islam di Banten, seperti : Angklung Buhun, Dog-dog Lojor, Bendrong Lesung, Beluk dsb;
  4. Seni Tradisional yang datang dari luar Banten, dengan mengalami proses akulturasi budaya seperti : Kuda Lumping, Gambang Kromong, Cokek dsb.

Sumber daya budaya di atas menunjukkan bahwa masyarakat Banten memiliki daya pikir, imajinasi,dan kreatifitas yang tinggi, dan semua itu merupakan kekayaan dan aset daerah yang harus dibina dan dikembangkan terutama untuk menentukan identitas daerah dan perkembangan pariwisata.

Perlunya melestarikan Kebudayaan Banten

Banten merupakan daerah yang memiliki potensi budaya yang masih berkembang secara optimal. Keanekaragaman budaya Banten mencerminkan kepercayaan dan kebudayaan masyarakat setempat yang dipengaruhi dengan unsur-unsur agama islam, sehingga identitas sosial budaya masyarakatnya dikenal sebagai masyarakat Banten yang religius. Masyarakat dan kebudayaan Banten memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri yang membedakan daerah yang satu dengan daerah yang lainnya. Keunikan tersebut menjadikan sebuah modal bagi eksistensi budaya Banten untuk dapat diperkenalkan kepada masyarakat umum Keunikan budaya Banten dapat dilihat dari berbagai macam kesenian tradisional, upacara adat, tradisi kepercayaan dalam ritual keagamaan dan kegiatan lainnya. Kegiatan budaya ini masih dipertahankan dan dilestarikan karena masyarakat Banten beranggapan bahwa didalam suatu budaya itu mengandung nilai-nilai budaya kewarganegaraan yang telah mengakar dalam jiwa masyarakat Banten. Nilai-nilai budaya kewarganegaraan tersebut tercermin dari pola tingkah laku dan kebiasaan masyarakat setempat.

Berikut beberapa kebudayaan Banten yang mesti kita lestarikan;

  1. Kebudayaan Pencak Silat

Pencak silat merupakan seni beladiri yang berakar dari budaya asli bangsa Indonesia. Disinyalir dari abad ke 7 Masehi silat sudah menyebar ke pelosok nusantara. Perkembangan dan penyebaran silat secara historis mulai tercatat ketika penyebarannya banyak dipengaruhi oleh kaum Ulama, seiring dengan penyebaran agama Islam pada abad ke15 di Nusantara. Kala itu pencak silat telah diajarkan bersama-sama dengan pelajaran agama di pesantren-pesatren dan juga surau-surau. Budaya sholat dan silat menjadi satu keterikatan erat dalam penyebaran pencak silat. Silat lalu berkembang dari sekedar ilmu beladiri dan seni tari rakyat, menjadi bagian dari pendidikan bela negara untuk menghadapi penjajah. Disamping itu juga pencak silat menjadi bagian dari latihan spiritual.

  1. Kebudayaan Debus

Debus merupakan kesenian bela diri dari Banten. Kesenian ini diciptakan pada abad ke-16, pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570). Debus, suatu kesenian yang mempertunjukan kemampuan manusia yang luar biasa, kebal senjata tajam, kebal api, minum air keras, memasukan benda kedalam kelapa utuh, menggoreng telur di kepala dan lain-lain.

  1. Kebudayaan Rudat Banten

Rudat adalah kesenian tradisional khas Banten yang merupakan perpaduan unsur tari, syair shalawat, dan olah kanuragan yang berpadu dengan tabuhan terbang dan tepuk tangan. Rudat terdiri dari sejumlah musik perkusi yang dimainkan oleh setidaknya delapan orang penerbang (pemain musik ) yang mengiringi tujuh hingga dua belas penari.Menurut beberapa tokoh Rudat, nama Rudat diambil dari nama alat yang dimainkan dalam kesenian ini. Alat musik tersebut berbentuk bundar yang dimainkan dengan cara dipukul. Seni Rudat mulai ada dan berkembang pada masa pemerintahan Sinuhun Kesultanan Banten II, Pangeran Surosowan Panembahan Pakalangan Gede Maulana Yusuf (1570-1580 M).

  1. Kebudayaan Tari Dzikir Saman Banten

Dzikir Saman yang ada di Banten berbeda dengan Saman yang ada di Aceh, disini para pemainnya terdari dari laki-laki dengan membentuk lingkaran. Sambil berputar, sambil menyebutkan shalawat Nabi Muhammad SAW. Seni Dzikir Saman ini tidak diiringi dengan perangkat alat musik, hanya nyanyian dengan menyebut asma Allah, alok dan gerakan tubuh yang berputar-putar. Seni ini sudah ada sejak dahulu, biasanya dalam acara tertentu seperti Khol Syeh Abdul Khodir Jailani, Rasullan, dan acara keagamaan lainya.

  1. Kebudayaan Ubrug Banten

Istilah ubrug diambil dari bahasa Sunda yaitu saubrug-ubrug yang artinya bercampur baur. Dalam pelaksanannya, kesenian ubrug ini kegiatannya memang bercampur yaitu antara pemain/pelaku dengan nayaga yang berada dalam satu tempat atau arena. Namun ada pendapat bahwa ubrug diambil dari kata sagebrug yang artinya apa yang ada atau seadanya dicampurkan, maksudnya yaitu antara nayaga dan pemain lainnya bercampur dalam satu lokasi atau tempat pertunjukan. Waditra yang digunakan dalam ubrug yaitu kendang besar, kendang kecil, goong kecil, goong angkeb (dulu disebut katung angkub atau betutut), bonang, rebab, kecrek dan ketuk. Alat-alat ini dibawa oleh satu orang yang disebut tukang kanco karena alat pemikulnya bernama kanco yaitu tempat menggantungkan alat-alat tersebut.

  1. Kebudayaan Tari Cokek Banten

Cokek adalah sebuah tarian tradisional dari daerah Tangerang yang dimainkan kali pertama sekitar abad ke-19. Ketika itu, tarian ini diperkenalkan oleh Tan Sio Kek, seorang tuan tanah Tionghoa di Tangerang yang sedang merayakan pesta. Dalam perayaan pesta itu, Tan Sio Kek mengundang beberapa orang ternama yang tinggal di Tangerang. Tan Sio Kek mengundang juga tiga orang musisi yang berasal dari daratan Cina. Ketika itu, para musisi Cina hadir sambil membawa beberapa buah alat musik dari negara asalnya.

  1. Kebudayaan Dog-dog Lojor Banten

Kesenian dogdog lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di sekitar Gunung Halimun (berbatasan dengan Sukabumi, Bogor, dan Lebak). Meski kesenian ini dinamakan dogdog lojor, yaitu nama salah satu instrumen di dalamnya, tetapi di sana juga digunakan angklung karena kaitannya dengan acara ritual padi. Setahun sekali, setelah panen seluruh masyarakat mengadakan acara Serah Taun atau Seren Taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib.

  1. Kebudayaan Suku Baduy

Orang Kanekes atau orang Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Sebutan “Baduy” merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau “orang Kanekes” sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo.

  1. Kebudayaan Rumah Adat Baduy

Rumah adatnya adalah rumah panggung yang beratapkan daun atap dan lantainya dibuat dari pelupuh yaitu bambu yang dibelah-belah. Sedangkan dindingnya terbuat dari bilik (gedek). Untuk penyangga rumah panggung adalah batu yang sudah dibuat sedemikian rupa berbentuk balok yang ujungnya makin mengecil seperti batu yang digunakan untuk alas menumbuk beras. Rumah adat ini masih banyak ditemukan di daerah yang dihuni oleh orangKanekes atau disebut juga orang Baduy.

  1. Kebudayaan Golok Banten

Golok adalah pisau besar dan berat yang digunakan sebagai alat berkebun sekaligus senjata yang jamak ditemui di Asia Tenggara. Hingga saat ini kita juga bisa melihat golok digunakan sebagai senjata dalam silat. Ukuran, berat, dan bentuknya bervariasi tergantung dari pandai besi yang membuatnya. Golok memiliki bentuk yang hampir serupa dengan machete tetapi golok cenderung lebih pendek dan lebih berat, dan sering digunakan untuk memotong semak dan dahan pohon. Golok biasanya dibuat dari besi baja karbon yang lebih lunak daripada pisau besar lainnya di dunia. Ini membuatnya mudah untuk diasah tetapi membutuhkan pengasahan yang lebih sering. Kebudayaan Banten merupakan potensi yang sangat luar biasa untuk dimanfaatkan dan dikelola dengan baik, kebudayaan bukanlah sebuah ‘menara gading’, kebudayaan haruslah memiliki pendamping yang dapat mewarnai dan memberi manfaat dalam proses pemberdayaan ekonomi rakyat, disamping mampu menguatkan jati diri ‘kebantenan’, juga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan daerah seperti kepariwisataan. Karena pariwisata merupakan fenomena yang sangat kompleks yang dapat dipandang sebagai satu sistem yang melibatkan pelaku, proses penyelenggaraan, kebijakan, supply dan demand, politik, serta sosial budaya. Tetapi pemanfaatan yang berlebihan dan tanpa batas dapat mengancam kelestarian kebudayaan itu sendiri. Disinilah peran pemerintah dan masyarakat dituntut untuk bijaksana dalam pemanfaatan sumberdaya budaya tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *